1. 1. Makna Jual beli
Jual beli adalah suatu kegiatan tukar
menukar barang dengan barang lain dengan tata cara tertentu. Termasuk
dalam hal ini adalah jasa dan juga penggunaan alat tukar seperti
uang.Secara terminologi jual beli dapat di definisikan sebagai berikut:
"
Menukar barang dengan barang atau barang dengan uangdenga jalan
melepaskan hak milik yang satu kepada yang lain atas dasar saling
merelakan (idris ahmad, fiqih al-syafi'iyah : 5)
" Penukaran benda
dengan benda lain dengan jalan saling merelakan atau memindahkan hak
milik dengan ada penggantinya dengan cara yang dibolehkan.
" Aqad yang tegak atas dasar penukaran harta atas harta, maka terjadilah penukaran hak milik secara tetap.(Hasbi
Ash-Shiddiqi, peng.Fiqh muamalah :97)[2]
Adapun beberapa ulama mendefinisikan jual beli sebagai berikut;
Menurut ulama hanafiyah
"saling
menukarkan harta dangan harta melalui cara tertentu." atau tukar
menukar sesuatu yang diingini dengan yang sepadan melalui cara tertentu
yang bermanfaat."
Unsur-unsur definisi yang dikemukakan oleh ulama
hanafiyah tersebut adalah, bahwa yang dimaksud dengan cara yang khusus
adalah ijab dan kabul, atau juga bisa saling memberikan barang dan
menetapkan harga antara penjual dan pembeli. Selain itu harta yang
diperjualbelikan itu harus bermanfaat bagi manusia, seperti menjual
bangkai, minuman keras dan darah itu tidak dibenarkan.
Menurut said sabiq jual beli adalah saling menukar harta dengan harta atas dasar suka sama suka.
Menurut Imam An-Nawawi jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan kepemilikan.
Menurut Abu Qudamah jual beli adalah saling menukar
harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan.[3]
Dari
beberapa definisi tersebut penulis mengambil kesimpulan bahwasanya jual
beli adalah suatu perjanjian yang dilakukan oleh kedua belah pihak
dengan cara suka rela sehingga keduanya dapat saling menguntungkan, maka
akan terjadilah penukaran hak milik secara tetap dengan jalan yang
dibenarkan oleh syara'.Yang dimaksud sesuai dengan ketetapan hukum
adalah memenuhu persyaratan-persyaratan, rukun-rukun dalam jual beli,
maka jika syarat dan rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai
dengan ketentun syara'. Yang dimaksud benda dapat mencakup pengertan
barang dan uang dan sifatnya adalah bernilai. Adapun benda-benda seperti
alkohol, babi, dan barang terlarang lainnya adalah haram diperjual
belikan.
1. 2. Landasan hukum
Jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama manusia mempunyai landasan yang amat kuat dalam
islam.
Dalam Al-quran Allah berfirman:
… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…
(QS.Al-baqarah:275)
Firman Allah SWT:
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu…
(QS.Al-baqarah:198)
Firman Allah SWT:
…kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu
(QS.An-nisa:29)
Firman Allah SWT:
… dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli…
(QS.Al-Baqarah:282)
Dalam sabda Rasulullah SAW disebutkan:
"Nabi
Muhammad SAW.pernah ditanya: apakah profesi yang paling baik?
Rasulullah menjawab: "usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual-beli
yang diberkati". (HR. Al-Barzaar dan Al-Hakim) [4]
1. 3. Rukun
Mengenai rukun dan syarat jual beli, para ulama memiliki perbedaan pendapat.
Menurut
mahzab hanafi rukun jual beli hanya ijab
dan kabul saja. Menurut mereka, yang menjadi rukun dalam jual beli
hanyalah kerelaan antara kedua belah pihak untuk berjual beli.
Menurut jumhur ulama rukun jual beli ada empat:
1. Orang yang berakad (Penjual dan pembeli)
2. Sighat (lafal ijab dan kabul)
3. Benda-benda yang diperjual belikan
4. Ada nilai tukar pengganti barang.
Menurut mahzab hanafi orang yang berakad, barang yang dibeli dan nilai tukar barang termasuk syarat bukan rukun.[5]
1. 4. Syarat-syarat jual beli
Menurut jumhur ulama, bahwa syarat jual beli sama dengan rukun jual beliyang disebutkan di atas adalah sebagai berikut:
1). Syarat orang yang berakad
1. Berakal
2.
Orang yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda. Maksudnya,
seseorang tidak dapat bertindak sebagai pembeli dan penjual
dalam waktu yang bersamaan.
2). Syarat yang terkait dengan ujab kabul
a. orang yang mengucapkannya telah akil baligh dan berakal.
b. kabul sesuai dengan ijab.
c. ijab dan kabul dilakukan dalam satu majlis.
3). Syarat yang diperjual belikan
a. barang itu ada, atau tidak ada di tempat, tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang itu.
b. Dapat dimanfaatkan atau bermanfaat bagi manusia.
c. Jelas orang yang memiliki barang tersebut.
d. Dapat diserahkan pada saat akad berlangsung, atau pada waktu yang telah disepakati bersama ketika akad berlangsung.
4). Syarat nilai tukar (harga barang)
a. Harga yang disepakati oleh kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
b. Dapat diserahkan pada saat waktu akad (transaksi).
c. Bila jual beli dilakukan dengan cara barter, maka barang yang dijadikan nilai tukar, bukan barang yang diharamkan syara'.
1.
5. Macam-macam jual beli :
Jual beli ditinjau dari segi hukumnya dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. Jual beli yang syah menurut hukum dan batal menurut hukum
1. Jual beli yang sahih
Apabila
jual-beli itu disyariatkan, memenuhi rukun atau syarat yang di
tentukan, barang itu bukan milik orang lain, dan tidak terkait dengan
khiyar lagi, maka jual beli itu sahih dan mengikat kedua belah pihak.
Umpamanya, seseorang membeli suatu barang. Seluruh rukun dan syarat
jual-beli telah terpenuhi. Barangitu juga telah di periksa oleh pembeli
dan tidak ada cacat, da tidak ada rusak. Uang yang sudah diserahkan dan
barangpun sudah diterima dan tidak ada lagi khiyar.[6]
1. Jual beli batil
Apabila
pada jual-beli itu salah satu atau seluruh rukunnya tidak terpenuhi,
atau jual beli itu pada dasarnya dan sifatnya tidak di syariatkan, maka
jual beli
itu batil.umpamanya, jual beli yang dilkukan oleh anak-anak, orang gila,
atau barang-barang yang di jual itu barang-barang yang di harapkan
syara(bangkai, darah, babi dan khamar).[7]
1) Jual beli sesuatu yang tidak ada
Ulama fikih sudah sepakat menyatakan, bahwa jual beli barang yang tidak ada tidak sah
2) Menjual barang yang tidak dapat di serahkan
3) Jual beli yang mengandung unsur tipuan
4) Jual beli benda najis
5) Jual beli al-'urbun
Jual beli yang bentuknya dilakukan melalui perjanjian
6) Memperjualkan air sungai, air danau, air laut dan air yang tidak dimiliki oleh seseorang
1. Jual beli fasid
Ulama
mazhab hanafi memedakan jual beli fasid dan jual beli batil. Sedangkan
jumhur ulama tidak membedakan jual beli fasid dengan
jual beli batil. Menurut mereka jual beli itu terbagi dua, yaitu jual
beli yang sahih dan jual beli yang batil.
Apabila rukun dan syrat
jual beli terpenuhi, maka jual beli itu sahih. Sebaliknya apabila suatu
rukun atau syarat jual beli tidak terpenuhi maka jual beli itu batil.
Menurut mazhab hanafi jual beli fasid antar lain
1. Jual beli al-majhl yaitu benda atau barang secara gelobal tidak di ketahui.
2.
Jual beli yang dikaitkan dengan suatu syarat, seperti ucapan penjual
kepada pembeli:" saya jual mobil saya ini kepadda anda bulan depan
setelah mendapat gaji
3. Menjual barang yang gaib yang tidak di ketahui pada saat jual beli berlangsung, sehingga tidak dapat dilihat oleh pembeli
4. Jual beli yang dilakukan orang buta
5. Barter barang dengan barang yang diharamkan
6. Jual beli al-ajl
Contoh:
seseorang menjual
barangnya senilai Rp100.000 dengan pembayarannya di tunda selama
sebulan, setelah penyerahan barang kepada pembeli, pemilik barang
pertama membeli kembali barang tersebut dengan harga yang lebih rendah
misalnya Rp 75.000 sehingga pembeli pertama tetap berhutang sebesar Rp
25.000.
7) Jual beli anggur untuk tujuan membuat khamr
8) Jual beli yang bergantung pada syarat
Contoh: seperti ungakapan pedagamg:"jika kontan harganya 1.200.000 dan jika berhutang harganya 1.250.000
9) Jual beli sebagian barang yang tidak dapat di pisahkan dari satuannya
Contoh: menjual daging kambing yang diambil dari daging kambing yang masih hidup.
10) Jual beli buah-buahan atau padi-padian yang belum sempurna matangnya untuk di panen
2. Dari segi objek jual beli dan segi pelaku jual beli
Ditinjau dari segi benda yang yang
dijadikan obyek jual beli dapat dikemukakan pendapat imam Taqiyuddin bahwa jual beli dibagai menjadi tiga bentuk :
1. jual beli benda yang kelihatan
maksudnya
adalah pada waktu melakukan akad jual beli benda atau barang yang
diperjualbelikan ada didepan penjual dan pembeli, seperti membeli beras
dipasar dan boleh dilakukan.
2. Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam janji
Sama
dengan jual beli salam (pesanan), ataupun yang dilakukan secara tidak
tunai (kontan). Maksudnya ialah perjanjian sesuatu yang penyarahan
barang-barangnya ditangguhkan hingga masa tertentu.
Dalam salam berlaku semua syarat jual beli dan syarat-syarat tambahannya ialah :
1.
Ketika melakukan akad salam disebutkan sifat-sifatnya yang mungkin
dijangkau oleh pembeli, baik berupa barang yang dapat ditakar, ditimbang
maupun diukur.
2. Dalam akad harus disebutkan segala sesuatu yang
bias mempertinggi dan memperendah harga barang itu.
3. Barang yang akan diserahkan hendaknya barang-barang yang biasa didapat dipasar.
Harga hendakya dipegang ditempat akad berlangsung.
Jual Beli yang dilarang dan batal hukumnya adalah :
1. Barang yang dihukumkan najis oleh agama seperti anjing, babi, berhala, bangkai dan khamar.
2.
Jual beli sperma (mani) hewan, seperti mengawinkan seekor domba jantan
dengan betina agar dapat memperoleh keturunan, jual beli ini haram
hukumnya karena Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : Dari Ibn Umar ra berkata : Rasulullah SAW telah melarang menjual mani binatang. (HR. Bukhari)
3. Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya.
4. Jual beli dengan mukhadharah yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas untuk dipanen.
5. Jual beli dengan munabadzah
yaitu jual beli secara lempar-melempar.
6. Jual beli gharar yaitu
jual beli yang samar sehingga kemungkinan adanya penipuan, contoh :
penjualan ikan yang masih dikolam.
7. Larangan menjual makanan
sehingga dua kali ditakar, hal ini menunjukkan kurang saling
mempercayainya antara penjual dan pembeli.
1. 6. Hikmah dan anjuran jual beli
Adapun
hikmah dibolehkannya jual-beli itu adalah menghindarkan manusia dari
kesulitan dalam bermuamalah dengan hartanya. Seseorang memiliki harta di
tangannya, namun dia tidak memerlukannya. Sebaliknya dia memerlukan
suatu bentuk harta, namun harta yang diperlukannya itu ada ditangan
orang lain. Kalau seandainya orang lain yang memiliki harta yang
diingininya itu juga memerlukan harta yang ada di tangannya yang tidak
diperlukannya itu, maka dapat berlaku usaha tukar menukar yang dalam
istilah bahasa Arab disebut jual
beli.[8]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar